Categories
Tanya Jawab Alkitab What's New

Menjadi Sahabat Allah

Keterikatan secara pribadi dengan Allah terwujud dalam keakraban yang memancar dari hati yang penuh penghargaan, kasih dan kepercayaan yang dapat diandalkan.

Pertanyaan: Salah satu hamba Tuhan di Alkitab yang saya ingat dikatakan menjadi sahabat Allah ialah Musa. Saya memiliki kerinduan ingin menjadi sahabat Allah seperti Musa. Apakah ini mungkin? Bagaimanakah caranya agar Saya menjadi sahabat Allah?
DAFTAR ISI
Daftar IsiIkatan Dalam Persahabatan

Keterikatan dalam suatu persahabatan yang paling karib seringkali dilukiskan dengan ‘kesetiaan’ atau ‘pengabdian pribadi’. Pernahkah Saudara menyadari bahwa keterikatan semacam ini juga dapat dilukiskan dalam persahabatan kepada Sang Pencipta yang mahabesar ​— bahwa Allah sendiri, yang mencipta alam semesta yang mengagumkan ini dapat menjadi sahabat pribadi Saudara? Ya, benar. Alkitab berbicara tentang memiliki pengabdian yang kudus dan saleh. Namun demikian, pernyataan ini melibatkan bukan hanya ketaatan tetapi juga keterikatan secara pribadi kepada Allah; keakraban yang memancar dari hati yang penuh penghargaan, kasih dan kepercayaan yang dapat diandalkan.

Daftar IsiMelatih Diri dengan Pengabdian Yang Kudus Dan Saleh

Menjadi sahabat Allah yang disertai dengan keterikatan semacam itu adalah mungkin bagi Saudara. Suatu pemikiran yang perlu untuk direnungkan bersama ialah bagaimana persisnya Saudara dapat menjalin persahabatan pribadi dengan Allah? Ini bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir atau yang secara otomatis Saudara warisi dari orang-tua yang saleh. Namun lebih dari pada itu, menjalin persahabatan pribadi dengan Allah ini merupakan sesuatu yang dapat diperoleh hanya melalui upaya yang tekun dan kerinduan hati yang tulus. Rasul Paulus mengajarkan kepada anak didiknya, Timotius, yang masih muda untuk ’melatih dirinya dengan pengabdian yang kudus dan saleh sebagai tujuannya’. Ini menandakan bahwa ia harus mengerahkan upaya yang serupa dengan upaya yang dikerahkan oleh seorang atlet sewaktu berlatih! (bdk. 1 Timotius 4:7, 8, 10)

“Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.”(1 Tim. 4:7, 8, 10 ITB)

Ini memberi isyarat bahwa demikianlah juga yang harus Saudara kerjakan jikalau Saudara menginginkan Allah menjadi sahabat Saudara.

Bagaimana Saudara dapat Mulai Berlatih dalam Hal Menginginkan Menjadi Sahabat Allah?

Daftar IsiPengetahuan Pribadi Akan Allah

Saudara harus mengisi hati Saudara dengan pengetahuan akan Allah. Mengapa? Karena pengabdian yang kudus dan saleh berasal dari hati. Sangat disayangkan, ketika kepada kebanyakan jemaat Allah diajukan pertanyaan ”Seberapa seringkah Anda membaca Alkitab secara pribadi?” Lebih dari delapan puluh sembilan persen menjawab ”kadang-kadang”, ”jarang sekali”, atau ”tidak pernah”. Rupanya, kebanyakan jemaat Allah menganggap membaca Alkitab bukanlah hal yang menarik dan relevan, tetapi hal yang membosankan. Tetapi, cobalah Saudara berhenti sejenak dan merenungkan akan hal ini. Tentu Saudara setuju bahwa sebenarnya tidak demikian. Pikirkan: Mengapa beberapa pria dewasa menguasai pengetahuan politik? Beberapa anak muda menghafal segala jenis statistik olahraga sepakbola misalnya, atau mempelajari lirik lagu-lagu favorit mereka? Karena mereka tertarik kepada hal-hal itu. Tentu, dengan cara yang serupa, mempelajari Alkitab menjadi menarik jika Saudara tertarik dengannya, gemar dengan segala hal yang ada di dalamnya. Melalui 1 Timotius 4:15, rasul Paulus mengajarkan, “Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.” Ditambah lagi dengan dorongan yang kuat untuk selalu memupuk niat dan minat menjadi langkah kongkrit menuju pada pertumbuhan yang konsisten. Perhatikanlah bagaimana rasul Petrus mengajarkan hal ini, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” – (1 Pet. 2:2-3 ITB) Tampaknya sungguh benar bahwa pengetahuan pribadi akan Allah ini harus Saudara bentuk, atau kembangkan. Semua itu diawali dengan niat dan minat semacam itu akan Alkitab. Yang pasti, ini membutuhkan upaya, tetapi manfaatnya sebanding dengan itu.

Mengapa penting mempelajari Alkitab? Seorang profesor berkata, “Hanya seorang tukang kayu, Yesus dari Nazaret, telah menggoncangkan dunia dengan beritanya!” Meski profesor ini tidak mengajar Alkitab dan ketika ia membandingkannya dengan sebuah karya sastra berjudul Don Quixote, Profesor yang meskipun tidak berminat kepada agama ini sangat menghargai Alkitab sebagai karya sastra —seperti yang ia katakan bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang “harus dibaca setiap pria dan wanita yang terpelajar.”

Sebagai contoh, membaca dan mempelajari Alkitab berikut materi-materi pengajaran yang Alkitabiah akan menyingkapkan ”kesukaan akan Allah” (lih. Mazmur 27:4).

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.”(Maz. 27:4 ITB)

Seorang jemaat menetapkan tujuan untuk membaca seluruh Alkitab. Ini membutuhkan waktu hampir satu tahun. ”Saya percaya tidak ada hal-hal lain dalam kehidupan Saya yang membutuhkan begitu banyak waktu dan upaya tetapi membawa begitu banyak manfaat,” demikian ia menjelaskan. ”Sewaktu Saya sedang membacanya, Saya merasa seolah-olah Allah mendudukkan Saya di dekat-Nya seperti seorang ayah dan mengajar Saya. Saya belajar begitu banyak tentang pribadi-Nya. Yaitu, hal-hal yang menarik Saya lebih dekat kepada-Nya dan membuat Saya segan dan takut akan Dia seumur hidup Saya. Ini pengalaman yang sangat menyenangkan bagi Saya.”

Sewaktu Saudara membaca Alkitab, Saudara menyadari bahwa dalam banyak kesempatan Allah dengan setia mendukung sahabat-sahabat-Nya. (bdk. Mazmur 18:26; 27:10)

“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.”(Maz. 18:25-26 ITB)

“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.”(Maz. 27:10 ITB)

Saudara mengerti bahwa standar-standar-Nya selalu yang terbaik dan demi kebaikan Saudara. Dan tentu itu akan bertahan lama. (bdk. Yesaya 48:17)

“Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: ‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.'”(Yes. 48:17 ITB)

Mempelajari dan mengenal sifat-sifat Allah yang tiada duanya, seperti kasih dan hikmat-Nya, mendorong Saudara untuk ingin meneladani Dia. (bdk. Efesus 5:1)

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.”(Efe. 5:1 ITB)

Tetapi dalam membaca Alkitab semacam itu agar menggugah hati Saudara, maka Saudara harus merenungkannya. Sambil Saudara membaca, cobalah untuk bertanya pada diri Saudara, “Apa yang dikatakan mengenai Allah? Bagaimana Saya dapat menerapkannya dalam pikiran dan tindakan Saya? Bagaimana ini semua akhirnya menunjukkan bahwa Allah adalah sahabat terbaik yang dapat Saya miliki?”

Pengertian dan pengetahuan yang Saudara raih tentang Allah melalui pelajaran pribadi akan membantu Saudara semakin dekat kepada-Nya dalam hal-hal lain. Sebuah peribahasa berbunyi, ”Sahabat sejati memiliki pikiran yang sama.” Tetapi bagaimana Saudara dapat ”memiliki pikiran yang sama” dengan Allah? Cobalah perhatikan pemikiran ini, ”Semakin banyak Saudara mempelajari dan membuat riset tentang sebuah subjek, semakin banyak Saudara mendapati pandangan Allah tentang itu. Ini benar-benar membantu ketika Saudara tahu bagaimana perasaan-Nya mengenai sesuatu.”

Daftar IsiTingkah Laku Yang Benar Penting

Tentu Saudara setuju dengan pernyataan ini bahwa orang-orang yang Allah pilih sebagai sahabat hanyalah mereka yang merespek standar-standar-Nya. Allah bergaul karib dengan orang jujur, demikian dijelaskan di dalam Amsal 3:32 (“karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.”). Setiap orang-percaya yang berjuang untuk menjadi lurus hati akan ”tetap hidup menurut hukum TUHAN”. (bandingkan 2 Raja 10:31 – “Tetapi Yehu tidak tetap hidup menurut hukum TUHAN, Allah Israel, dengan segenap hatinya; ia tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula.”)

Yesus pernah mengajarkan seberapa dekatnya tingkah laku yang taat semacam itu akan membawa seseorang kepada Allah. Ia mengatakan, ”Bapa-Ku akan mengasihinya, dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (bdk. Yohanes 14:21-24) Ini benar-benar perkataan yang menentramkan hati bukan? Sekarang Saudara bisa membayangkan, Bapa dan Anak, dua pribadi mahabesar di alam semesta senantiasa memberikan perhatian dan kepedulian kepada seorang manusia, ciptaan. Ya, Saudara! Inilah yang terjadi atas diri Saudara ketika Saudara tetap hidup menurut hukum Allah. Apakah menjadi ‘orang jujur’ berarti Saudara harus sempurna? Sama sekali tidak! Membuat kekeliruan karena kelemahan tidak berarti bahwa Saudara telah meninggalkan ’petunjuk perintah-perintah Allah’. (Mazmur 119:35 – “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.”) Pertimbangkan apa yang Alkitab tuliskan mengenai raja Daud. Meskipun ia sahabat Allah yang loyal, ia melakukan beberapa kesalahan yang serius karena kelemahan. Kenyataannya, meskipun demikian, Allah mengatakan bahwa ia telah berjalan ”dengan tulus hati dan dengan benar [”jujur”]”. (1 Raja 9:4 – “Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku.”) Raja Daud menunjukkan pertobatan yang sepenuh hati atas perbuatan salah apa pun yang ia lakukan dan berupaya keras untuk melakukan apa yang menyenangkan Allah (bdk. Mazmur 51:3-6).

“Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.”(Maz. 51:3-6 ITB)

Meskipun Daud mengasihi Allah, ia tahu bahwa kadang-kadang sangat sulit untuk melakukan apa yang benar. Itulah sebabnya ia memohon kepada Allah, ”Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu.” Ya, ia mengembangkan rasa gentar, atau takut, yang tulus agar tidak menyakiti hati Allah. Dengan demikian Daud dapat mengatakan, ”TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 25:5, 14) Rasa takut semacam ini yang sejatinya adalah rasa hormat yang teramat dalam kepada Pencipta dan rasa gentar untuk membuat-Nya senang. Takut yang saleh ini merupakan dasar bagi tingkah laku yang layak dan pantas.

Daftar IsiPenutup

Melalui pelajaran Alkitab secara pribadi, renungan, dan tingkah laku yang benar, Saudara dapat memupuk persahabatan yang akrab dengan Allah.

Image by Jeff Jacobs from Pixabay

4 replies on “Menjadi Sahabat Allah”

Shallom, sy sangat setuju sekali, bgm mungkin kita dapat menjadi seorang sahabat yg setia kalau kita tdk mengenal dengan dekat secara pribadi sahabat kit tsb, dengan menjadi sahabat, kita pasti akan tahu apa yg menjadi harapan dan keinginan sahabat kita, juga sesuatu yg ia miliki, jadi bagaimana kita bisa tahu isi hati Tuhan, janji janji Nya, juga termsuk ancaman dan hal hal yg tidak di sukai oleh Tuhan kalau kita tidak menjadi sahabat Tuhan, dan bgm kita bisa menjadi sahabat Tuhan kalau kita tidak pernah bergaul dengan Tuhan, dan bgm kita bisa bergaul dengan Tuhan kalau kita tidak pernah membaca Firman Nya ???… Sy mengalami, semasa sy blm bertobat tetapi sdh ikut Tuhan Yesus, waktu itu sy hanya tau saja Tuhan Yesus, tetapi sy tdk mengenal lebih dalam lgi, maka kehidupan sy waktu itu ya sama dengan orang dunia umumnya…hingga sy ditegur Tuhan dengan sangat keras,
Puji Tuhan teguran itu membuat saya bertobat dan setelah sy mengenal Tuhan dan mengalami Tuhan sendiri, sy semakin tdk bisa lepas dengan namanya Firman Tuhan, baik sy baca, saya bicarakan/sharingkan dan sy bagikan ke sdr/rekan sy yg lain…dan sy merasakan ada perubahan dalam kehidupan saya, di mana setiap saya melakukan pekerjaan yg terlintas hanya untuk kemuliaan Tuhan, dan bahkan sy melakukan pekerjaan sekuler sdh tidak seperti dulu lagi yaitu, dengan segala cara spy berhasil…. Puji Tuhan sekarang sy bisa BERSERAH dan MENGANDALKAN TUHAN…dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap langkah apa yg sy lakukan….semua itu karena sy sdh mengenal Tuhan dan Tuhan mulai membuka hikmat Nya kepada sy…
Trm kasih ps. Budi sy percaya pengajaran yg disampaikan juga dapat menjadi berkat bagi sdr sdr semua yg membacanya…
Tuhan Yesus memberkati…

Thx buat kesaksian Pak Eka,, thx P Budi sharing nya
Hubungan dgn Tuhan memang perlu dipupuk setiap harinya, aku secara pribadi terkadang muncul rasa malas saat baca alkitab dan berdoa tetapi Roh Kudus sll mengingatkan saya ada dorongan dan ada hati yg tergerak utk dtg kepada Nya,, keselamatan dan pengenalan akan Tuhan adlh tgg jawab pribadi, Latihlah dirimu beribadah.Gbu

Thx Ps Budi sharingnya, thx Pak Eka kesaksiannya yang membangun – hidup berserah, mengandalkan Tuhan dan menyertakan Tuhan dalam setiap hal, demikian juga ms Ane buat keselamatan dan pengenalan akan Tuhan itu tanggung jawab pribadi. Betul itu hal yang perlu diINGAT dan diLAKUKAN.
Teringat dengan satu kata KOMITMEN. Melakukan sesuatu dengan setia serta tulus hati karena sudah berikrar walau diucapkan atau tidak.
Jadi sahabat itu berhubungan juga tentang mendengar (listen) vs mendengar (hear). Selain itu juga tentang menyimak (watch) vs melihat (see).
Saya lihat keindahan sahabat Tuhan seperti Daud waktu memakai kain kabung menantikan anak hasil perbuatan awalnya dengan istri Uria, seolah sedang berdiskusi mengenai hak hidup anak tsb. Juga saat Abraham berargumentasi dengan Tuhan tentang 100-50-20-10 orang benar.
Adakalanya juga meminta pendapat(get wisdom) seperti Daud saat berperang lawan orang Filistin, haruskah maju frontal atau memutar.
Dan jangan sia2kan saat2 menjadi sahabat Tuhan karena hal itu merupakan kasih karunia di mata TUHAN. Saat mata Tuhan tertuju pada seseorang, luar biasa hasilnya BILA mau ada dalam tuntunanNya. Namun adakalanya Dia seolah berpaling dan doa2 seolah ga ada jawaban. Menurut saya, sebenarnya itu ujian sahabat, akankah kita tetap punya komitmen ?
God bless…
Muyasebe

Many insights from the Bible are very good, real, and easy to put into practice in my life. One of them is learning to be a faithful and trustworthy friend of God. Moses is one of my favorite role models. His obedience to God was completely reliable. I want to be like him. In this day and age, this kind of mentality has to become a goal and identity in Christians. And, I want it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *