Categories
Kristianitas What's New

Nabi di Era Sekarang Ini

Tidak jarang ditemui, akhir-akhir ini seseorang mengaku bahwa dirinya berbicara atas nama Tuhan. Tidak dapat disangkal pula bahwa karunia supranatural disediakan Tuhan di tengah-tengah orang-percaya.

“Masihkah Gereja memerlukan nabi di era sekarang ini?” menjadi pertanyaan yang sudah tidak asing lagi. Tidak jarang ditemui, akhir-akhir ini seseorang mengaku bahwa dirinya berbicara atas nama Tuhan. Tidak mengherankan pula bahwa ini dekat dengan pemahaman tentang adanya karunia supranatural yang disediakan di tengah-tengah orang-percaya. Jadi, masihkah Gereja memerlukan nabi di era sekarang ini?

MENGAPA NABI DIPERLUKAN?

Pesan dari Tuhan melalui para nabi merupakan pernyataan wahyu (kebenaran dari Allah). Jelas bahwa Gereja Mula-mula tidak memiliki Alkitab yang utuh sebagaimana orang Kristen memiliki Alkitab pada era sekarang ini. Bahkan, satu kitab dalam Perjanjian Baru pun belum terbentuk sehingga beberapa dari mereka tidak memiliki akses kepada satupun kitab dalam Perjanjian Baru. Perlu diketahui bahwa kitab Wahyu (kitab terakhir dalam Perjanjian Baru) belum dinyatakan (diwahyukan) sampai berakhirnya abad pertama. Di sinilah peran para nabi dalam Perjanjian Baru diperlukan bagi Gereja Mula-mula. Para nabi melengkapi orang-orang-percaya untuk memiliki akses pada pesan-pesan baru dari Allah. Jadi, para nabi dikirimkan oleh Allah untuk memberitakan Firman-Nya kepada Gereja Mula-mula.

KARUNIA SEMENTARA UNTUK MENDIRIKAN GEREJA

Gereja (bahasa Yunani: Ekklesia) merupakan sekumpulan orang-orang-percaya yang dihimpun dalam suatu persekutuan yang disebut sebagai Tubuh Kristus, di mana Kristus adalah Kepala dari Tubuh-Nya (Gereja). Di sini peranan nabi menjadi sentral dan dasar bagi Tubuh Kristus. Efesus 2:19-20 mengatakan bahwa, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” (TB-LAI). Rupanya, pendayagunaan karunia bernubuat menjadi karunia sementara yang diberikan oleh Kristus bagi para nabi untuk mendirikan Gereja. Orang-orang-percaya Mula-mula menerima penyataan pesan dari Allah melalui para nabi, di mana kadang-kadang pewahyuan pesan dari Allah itu bersifat prediktif, misalnya seperti pada Kisah 11:28 tuliskan, “Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius.”

SETELAH ALKITAB UTUH, MASIHKAH DIPERLUKAN NABI?

Jika tujuan nabi adalah untuk menyatakan kebenaran dari Allah dan jika ketika kita sudah memiliki pewahyuan yang lengkap dari Allah yakni Alkitab, lantas mengapa kita masih memerlukan nabi saat ini? Bagaimana dengan seseorang yang mengakui bahwa dirinya adalah nabi yang sejati di jaman sekarang ini? Jika kita ingin meyakini nabi-nabi baru yang bermunculan saat ini, bagaimana dengan pengertian bahwa nabi dipanggil Tuhan untuk menjadi “dasar” dari Gereja Mula-mula? Lalu, apakah kita sekarang ini masih membangun “dasar”? Inilah alasan dasar mengapa orang-percaya saat ini perlu mempertimbangkan pemikiran ini. Jika kita mungkin masih ragu, cobalah kita merenungkan pertanyaan ini. Dapatkah Tuhan memberikan pesan kepada seseorang agar disampaikan kepada orang lain? Tentu saja! Dapatkah Tuhan menyatakan kebenaran kepada seseorang dengan cara yang ajaib dan memampukan orang itu menyampaikan pesan tersebut kepada orang lain? Tentu saja! Tetapi, apakah ini karunia bernubuat yang alkitabiah? Tidak. Sekali lagi, kita perlu mempertimbangkan pemikiran ini.

MENYIKAPI NUBUATAN

Jika kita menerima pesan Tuhan dari seseorang yang mengaku bahwa dirinya berbicara atas nama Tuhan —biasanya ditandai dengan tindakan bernubuat—, lantas bagaimana kita bersikap? Kunci utamanya yakni dengan membandingkan apa yang orang tersebut sampaikan dengan apa yang Alkitab katakan dan tetapkan. Prinsip dasarnya ialah bahwa Tuhan tidak bisa bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Jadi, jika pada saat ini Tuhan berbicara melalui seseorang, pesan itu akan sesuai dengan apa yang Tuhan telah katakan dan tetapkan di Alkitab. Jika tidak, tentu apa yang dikatakan dalam 1 Yohanes 4:1 cukup meyakinkan pikiran kita bahwa, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” Demikian juga Alkitab menyatakan bahwa, “dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:20-21 LAI-TB). Membandingkan apa yang disampaikannya dengan apa yang dinyatakan Firman Allah adalah prinsip dasar untuk menyikapi nubuatan. Jadi, apakah pesan tersebut merupakan “pesan dari Allah” ataupun hanya tampak seperti sebuah nubuatan, respon kita harus sama.

PENUTUP

Sejauh ini, kita sudah bisa mengetahui banyak hal tentang nabi, apa perannya, kapan munculnya dan bagaimana pesan Tuhan disampaikan kepada orang-percaya. Sekarang, jika kita menemui pesan Tuhan yang bertentangan dengan Alkitab, maka tentu kita dapat mengabaikannya. Tetapi, jika pesan itu sesuai dengan Alkitab, berdoalah meminta kearifan dan hikmat untuk menjalankan pesan tersebut. Yang terpenting bagi orang-percaya saat ini ialah bahwa kita harus menerima dengan penuh iman Alkitab itu Firman Allah yang sahih dan menjadi satu-satunya sumber kebenaran tertinggi bagi orang-percaya yang hidup di era sekarang ini.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” – (2 Tim. 3:16-17 ITB)

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit ,maka hal itu akan diberikan kepadanya.” – (Yak. 1:5 ITB)

Percayalah kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab!

Image by press and from Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *